Bagi para penggemar Kimetsu no Yaiba, nama Michikatsu Tsugikuni bukanlah karakter biasa. Ia bukan sekadar antagonis kuat dengan desain menyeramkan, melainkan sosok dengan latar belakang tragis, konflik batin mendalam, serta hubungan keluarga yang menjadi salah satu kisah paling emosional dalam seri ini.
Dari seorang samurai terhormat di era Sengoku hingga menjelma menjadi iblis terkuat di jajaran Dua Belas Kizuki, perjalanan hidupnya penuh dengan ambisi, kecemburuan, dan penyesalan. Artikel ini akan membahas secara lengkap siapa sebenarnya Michikatsu Tsugikuni, fakta-fakta penting tentang dirinya, serta alasan mengapa ia menjadi salah satu karakter paling kompleks dalam karya ciptaan Koyoharu Gotouge ini.
Baca Juga: 60 Episode Demon Slayer Tersedia Gratis hingga 2027
Mengenal Dunia Kimetsu no Yaiba
Sebelum membahas lebih jauh, mari kita pahami konteks ceritanya. Kimetsu no Yaiba adalah manga karya Koyoharu Gotouge yang kemudian diadaptasi menjadi anime populer oleh studio Ufotable. Cerita ini berfokus pada perjuangan Korps Pembasmi Iblis melawan Muzan Kibutsuji dan para iblis kuat yang berada di bawah komandonya.
Dalam struktur kekuatan iblis, terdapat kelompok elit bernama Dua Belas Kizuki, yang terbagi menjadi Upper Rank dan Lower Rank. Upper Rank One adalah posisi tertinggi dan terkuat di antara para iblis bawahan Muzan. Sosok yang menempati posisi tersebut tidak lain adalah Michikatsu Tsugikuni setelah ia berubah menjadi iblis dengan nama baru: Kokushibo.
1. Kakak Kembar Yoriichi Tsugikuni yang Hidup dalam Bayang-Bayang
Fakta paling mendasar sekaligus paling menyakitkan dari kehidupan Michikatsu adalah statusnya sebagai kakak kembar dari Yoriichi Tsugikuni.
Mereka lahir di era Sengoku, masa penuh peperangan di Jepang. Secara tradisi, anak pertama biasanya lebih diunggulkan dan memiliki tanggung jawab besar dalam keluarga. Namun, dalam kasus ini, Yoriichi menunjukkan bakat luar biasa sejak kecil. Ia memiliki kemampuan bertarung alami yang nyaris mustahil ditandingi.
Sebaliknya, Michikatsu harus berlatih keras untuk menjadi samurai yang kuat. Ia disiplin, pekerja keras, dan memiliki ambisi besar. Namun, setiap kali dibandingkan dengan Yoriichi, semua usahanya terasa sia-sia.
Rasa iri yang awalnya kecil perlahan berkembang menjadi kecemburuan mendalam. Bukan hanya karena kemampuan pedang, tetapi juga karena Yoriichi dianggap sebagai sosok “terpilih” dengan tanda khusus di tubuhnya yang kemudian dikenal sebagai Demon Slayer Mark.
Hubungan mereka menjadi simbol rivalitas saudara yang ekstrem. Di satu sisi, Michikatsu mengagumi adiknya. Di sisi lain, ia membenci kenyataan bahwa ia tak pernah mampu melampaui Yoriichi.
Konflik batin inilah yang menjadi fondasi tragedi besar dalam hidupnya.
2. Pencipta Teknik Moon Breathing yang Mematikan
Tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang Sun Breathing milik Yoriichi, Michikatsu menciptakan gaya pernapasan sendiri yang dikenal sebagai Moon Breathing.
Sun Breathing adalah teknik dasar dan paling kuat yang menjadi cikal bakal berbagai teknik pernapasan lainnya. Karena tidak mampu menguasai teknik tersebut secara sempurna, Michikatsu mengembangkan versinya sendiri.
Moon Breathing memiliki karakteristik yang berbeda:
-
Gerakannya lebih kompleks
-
Serangannya tidak terduga
-
Menghasilkan efek sabit bulan yang berlapis-lapis
-
Pola tebasannya sulit dibaca
Teknik ini menunjukkan bahwa Michikatsu sebenarnya adalah pendekar pedang jenius. Ia bukan sosok lemah. Justru, dalam kondisi normal, ia sudah termasuk yang terkuat pada masanya.
Namun, satu hal yang terus menghantuinya adalah perasaan inferior terhadap Yoriichi. Sekuat apa pun dirinya, ia selalu merasa tidak cukup.
Ironisnya, setelah berubah menjadi iblis, teknik Moon Breathing justru menjadi jauh lebih mematikan karena dipadukan dengan kekuatan regenerasi dan darah iblis.
3. Takut Mati Muda dan Memilih Jalan Iblis
Salah satu titik balik terbesar dalam hidup Michikatsu terjadi ketika ia mengetahui konsekuensi dari Demon Slayer Mark.
Para pembasmi iblis yang membangkitkan tanda tersebut memiliki risiko meninggal sebelum usia 25 tahun. Bagi seseorang yang memiliki ambisi besar untuk menjadi yang terkuat, informasi ini menjadi pukulan telak.
Michikatsu merasa waktunya tidak cukup untuk melampaui Yoriichi. Ia terobsesi untuk menjadi lebih kuat dan menolak menerima batasan usia tersebut.
Di sinilah peran Muzan Kibutsuji menjadi sangat krusial.
Muzan menawarkan keabadian dan kekuatan tanpa batas sebagai imbalan kesetiaan. Tawaran itu menjadi solusi instan atas ketakutan Michikatsu. Ia menerima darah Muzan dan berubah menjadi iblis, meninggalkan nama lamanya serta mengambil identitas baru: Kokushibo.
Keputusan ini bukan hanya pengkhianatan terhadap Korps Pembasmi Iblis, tetapi juga terhadap nilai-nilai samurai yang selama ini ia junjung tinggi.
Ia memilih hidup abadi, namun kehilangan kemanusiaannya.
4. Upper Rank One, Iblis Terkuat di Jajaran Dua Belas Kizuki
Sebagai Kokushibo, Michikatsu menduduki posisi Upper Rank One dalam Dua Belas Kizuki. Itu berarti ia adalah iblis terkuat setelah Muzan.
Beberapa fakta mengenai kekuatannya:
-
Memiliki enam mata yang memberinya penglihatan luar biasa
-
Tetap menggunakan teknik pernapasan (Moon Breathing) meskipun sudah menjadi iblis
-
Mampu meregenerasi tubuh dan pedangnya
-
Pengalaman tempur ratusan tahun
Berbeda dengan iblis lain yang sepenuhnya mengandalkan kekuatan darah, Kokushibo tetap mempertahankan gaya bertarung samurai yang elegan dan presisi.
Dalam Arc Infinity Castle, ia menjadi lawan yang membutuhkan kerja sama beberapa Hashira untuk dikalahkan. Pertarungan melawannya adalah salah satu momen paling intens dan emosional dalam seri ini.
Kekuatan fisik yang luar biasa dipadukan dengan teknik pedang tingkat tinggi membuatnya menjadi ancaman nyata bahkan bagi para pembasmi iblis terbaik.
5. Leluhur Muichiro Tokito yang Mengejutkan
Salah satu plot twist paling mengejutkan adalah fakta bahwa Michikatsu merupakan leluhur dari Muichiro Tokito, Hashira Kabut di era Taisho.
Garis keturunannya ternyata tidak terputus meskipun ia memilih menjadi iblis. Dalam pertarungan mereka, Kokushibo menyadari bahwa Muichiro memiliki bakat luar biasa yang mengingatkannya pada kejayaan masa lalu keluarga Tsugikuni.
Momen ini sangat ironis.
Seorang leluhur yang mengkhianati kemanusiaan harus berhadapan dengan cicitnya sendiri yang justru menjadi pembasmi iblis.
Di sinilah sisi manusiawi Michikatsu kembali muncul. Ia sempat menunjukkan ekspresi kebingungan dan refleksi diri. Pada akhirnya, ia menyadari bahwa obsesinya terhadap kekuatan telah membuatnya kehilangan segalanya.
Karakter yang Tragis dan Penuh Pelajaran
Kisah hidup Michikatsu Tsugikuni bukan hanya tentang kekuatan atau pertarungan epik. Ini adalah kisah tentang:
-
Kecemburuan yang tidak terkendali
-
Ambisi yang berlebihan
-
Ketakutan terhadap kegagalan
-
Penyesalan yang datang terlambat
Ia adalah contoh nyata bagaimana perasaan iri dapat berkembang menjadi racun yang menghancurkan diri sendiri.
Jika sejak awal ia mampu menerima bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing, mungkin takdirnya akan berbeda. Namun, obsesinya untuk melampaui Yoriichi membawanya pada keputusan yang tidak bisa dibatalkan.
Mengapa Michikatsu Menjadi Salah Satu Karakter Terbaik?
Ada beberapa alasan mengapa karakter ini begitu membekas di hati penggemar:
-
Kedalaman Emosional – Konflik batinnya terasa realistis dan manusiawi.
-
Desain Visual Ikonik – Enam mata dan aura misteriusnya sangat khas.
-
Latar Belakang Historis – Setting era Sengoku menambah nuansa epik.
-
Pertarungan Spektakuler – Arc Infinity Castle menjadi puncak eksistensinya.
-
Pesan Moral yang Kuat – Tentang menerima diri sendiri dan mengelola rasa iri.
Dalam dunia anime dan manga, tidak banyak antagonis yang memiliki kedalaman psikologis seperti dirinya.
Penutup
Michikatsu Tsugikuni adalah simbol tragedi dalam Kimetsu no Yaiba. Ia bukan sekadar iblis kuat dengan posisi tinggi dalam Dua Belas Kizuki. Ia adalah seorang kakak, samurai, pejuang, sekaligus sosok yang kalah oleh emosinya sendiri.
Perjalanannya dari manusia menjadi iblis memperlihatkan bagaimana ambisi yang tidak terkontrol dapat menghancurkan identitas seseorang. Hubungannya dengan Yoriichi menjadi inti dari konflik batin yang membentuk seluruh keputusannya.
Bagi para penggemar anime dan manga, kisah Michikatsu adalah salah satu narasi paling menyentuh sekaligus menyakitkan. Ia membuktikan bahwa dalam dunia yang penuh pertarungan dan kekuatan, musuh terbesar sering kali adalah diri sendiri.
Dengan adaptasi anime yang terus berlanjut, banyak penggemar menantikan visualisasi penuh pertarungan Kokushibo di layar. Jika diadaptasi dengan kualitas animasi terbaik, momen tersebut berpotensi menjadi salah satu adegan paling epik dalam sejarah serial ini.
Pada akhirnya, Michikatsu Tsugikuni mengajarkan satu hal penting: kekuatan sejati bukan hanya soal melampaui orang lain, tetapi tentang mampu menerima dan berdamai dengan diri sendiri.




No comments:
Post a Comment